Sejarah Dusun Pulosari
Kampung Induk, Jejak Candi Arimbi, Syiar Kyai Sari, dan Perjalanan Masyarakat
Dusun Pulosari merupakan salah satu dari tiga dusun yang membentuk Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Bersama Dusun Pulonasir dan Dusun Sumbermulyo, wilayah ini menjadi bagian dari bentang kehidupan masyarakat di kawasan yang dikenal dengan sebutan Panyongone Anjasmoro.
Di antara ketiga dusun tersebut, Pulosari memiliki posisi yang sangat penting dalam perjalanan sejarah desa. Cerita asal-usul yang dipublikasikan Pemerintah Desa Pulosari menyebut kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Pulosari berkembang dari sebuah permukiman yang dibuka oleh tokoh agama bernama Kyai Sari bersama istrinya, Mayang Sari. Dalam tradisi tutur masyarakat, keduanya juga dikaitkan dengan perkembangan ajaran Islam di wilayah tersebut.
Pada perkembangan berikutnya, Kampung Pulosari menjadi pusat kehidupan pemerintahan desa hingga masa sekarang.
Karena itu, sejarah Dusun Pulosari bukan hanya sejarah sebuah permukiman. Di wilayah inilah bertemu jejak masa klasik, cerita rakyat, perkembangan kehidupan Islam, pertanian, pemerintahan, dan perubahan masyarakat dari masa ke masa.
Pulosari Sebelum Menjadi Kampung
Dalam cerita lokal yang diwariskan masyarakat, wilayah Desa Pulosari pada masa lampau digambarkan masih berupa kawasan hutan dengan penduduk yang belum banyak.
Riwayat desa kemudian menghubungkannya dengan masa Kerajaan Majapahit. Dalam legenda masyarakat disebut nama Prabu Boko dan Joko Lodang, yang dikisahkan berkaitan dengan pembangunan tempat peribadatan yang kemudian dikenal sebagai Candi Arimbi. Pemerintah Desa sendiri menyajikan kisah ini sebagai bagian dari legenda asal-usul desa.
Cerita tersebut penting sebagai warisan tutur, tetapi tidak seluruh detail tokoh dan peristiwanya dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang sudah dibuktikan secara arkeologis.
Yang dapat dipastikan adalah bahwa di Dusun Pulosari benar-benar terdapat Candi Rimbi atau Candi Arimbi, yaitu peninggalan masa klasik di wilayah Kabupaten Jombang. Pemerintah Kabupaten Jombang mencatat lokasinya secara administratif berada di Dusun Pulosari, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng.
Keberadaan candi itulah yang menjadikan Dusun Pulosari mempunyai kedalaman sejarah yang berbeda.
Jauh sebelum kantor desa berdiri, jauh sebelum jalan-jalan berkembang seperti sekarang, kawasan ini sudah menyimpan jejak peradaban masa lampau.
Candi Arimbi, Saksi Perjalanan Zaman
Bagi masyarakat Dusun Pulosari, Candi Arimbi bukan sekadar objek wisata.
Bangunan tersebut merupakan pengingat bahwa wilayah yang mereka tempati telah melewati berbagai zaman.
Candi Rimbi merupakan peninggalan masa klasik yang memperlihatkan jejak sejarah dan kebudayaan Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Jombang juga menempatkannya sebagai salah satu destinasi sejarah dan budaya daerah.
Dalam kehidupan masyarakat tempo dulu, pemahaman mengenai nilai arkeologis sebuah candi tentu tidak sama dengan sekarang. Situs Desa Pulosari bahkan mencatat bahwa pada masa tertentu batu-batu dari kawasan candi pernah dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan rumah atau jalan sebelum kesadaran pelestarian berkembang lebih baik.
Kisah ini memberikan pelajaran penting.
Sebuah peninggalan sejarah dapat bertahan bukan hanya karena usianya, tetapi karena masyarakat akhirnya memahami bahwa warisan tersebut perlu dijaga.
Hari ini Candi Arimbi menjadi bagian penting dari identitas Pulosari.
Ia menjadi penghubung antara generasi sekarang dengan masa yang jauh lebih tua.
Datangnya Kyai Sari dan Mayang Sari
Lapisan sejarah berikutnya membawa masyarakat pada cerita mengenai berkembangnya kehidupan Islam.
Menurut sejarah desa yang dicatat Pemerintah Desa Pulosari, datang seorang tokoh ulama bernama Kyai Sari bersama istrinya, Mayang Sari.
Dalam cerita tersebut, keduanya membuka kawasan hutan untuk dijadikan permukiman sekaligus membawa ajaran Islam. Permukiman itulah yang kemudian dikenal dengan nama Kampung Pulosari.
Tidak terdapat tahun yang pasti mengenai kedatangan Kyai Sari dan Mayang Sari dalam sumber resmi desa yang tersedia. Karena itu, kisah ini lebih tepat disebut sebagai sejarah tutur masyarakat yang kemudian dicatat dalam dokumen desa.
Namun justru di sinilah nilai pentingnya.
Cerita tentang Kyai Sari dan Mayang Sari menunjukkan bahwa asal-usul Kampung Pulosari dalam ingatan masyarakat tidak hanya berhubungan dengan pembukaan lahan, tetapi juga dengan kehidupan spiritual dan keagamaan.
Membuka hutan berarti membuka ruang hidup.
Mendirikan permukiman berarti membangun keluarga.
Membawa ajaran agama berarti membangun nilai yang akan menjadi pegangan masyarakat.
Dari Hutan Menjadi Permukiman
Bayangkan Pulosari pada masa awal.
Belum ada jalan beraspal.
Belum ada listrik.
Belum ada kantor pemerintahan seperti sekarang.
Permukiman masih sederhana dan sebagian besar lingkungan masih didominasi pepohonan, lahan terbuka, sungai, kebun, dan hutan.
Masyarakat membuka lahan sedikit demi sedikit.
Pohon ditebang seperlunya untuk membangun rumah dan membuka kebun. Tanah diolah untuk menghasilkan bahan pangan.
Rumah-rumah kemudian tumbuh berdekatan dengan sumber air, jalan setapak, dan lahan yang dapat dikerjakan.
Dari rumah-rumah itulah perlahan tumbuh sebuah kampung.
Dalam riwayat desa, Kampung Pulosari kemudian berkembang menjadi kawasan yang subur dan akhirnya berperan sebagai pusat pemerintahan.
Ini menjadi salah satu alasan mengapa Dusun Pulosari mempunyai posisi penting sampai sekarang.
Kehidupan Religius Masyarakat
Kisah Kyai Sari dan Mayang Sari memberi warna religius yang kuat dalam sejarah Dusun Pulosari.
Islam berkembang bukan hanya sebagai kegiatan ibadah, tetapi sebagai bagian dari tata kehidupan masyarakat.
Pada masa ketika pendidikan formal belum berkembang, tokoh agama memiliki peranan sangat besar.
Masyarakat belajar mengaji.
Anak-anak memperoleh pendidikan agama.
Persoalan sosial sering dibicarakan bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Tradisi keagamaan kemudian berkembang dari generasi ke generasi melalui masjid, musala, pengajian, peringatan hari besar Islam, kegiatan sosial, dan berbagai kebiasaan masyarakat.
Dalam perjalanan panjang tersebut, hal yang menarik adalah bahwa kehidupan Islam berkembang di wilayah yang juga menyimpan peninggalan kebudayaan Hindu berupa Candi Arimbi.
Kedua lapisan sejarah itu sekarang hadir bersama sebagai identitas Pulosari.
Candi dijaga sebagai warisan sejarah.
Kehidupan masyarakat berkembang dengan nilai agama yang dianut generasi berikutnya.
Pulosari menjadi contoh bagaimana sebuah wilayah dapat menyimpan jejak dari zaman yang berbeda tanpa harus menghapus salah satunya.
Asal Nama Pulosari
Nama Pulosari juga mempunyai cerita tersendiri.
Salah satu versi yang berkembang menghubungkan nama desa dengan keberadaan pohon Polosari atau Pulosari yang dahulu disebut banyak tumbuh di wilayah tersebut. Namun Pemerintah Desa Pulosari sendiri pernah menegaskan bahwa cerita mengenai pohon tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar asal-usul nama desa.
Ada pula kaitan yang menarik antara kata “Sari” dengan tokoh Kyai Sari dan Mayang Sari dalam sejarah tutur masyarakat.
Akan tetapi, belum ada sumber yang cukup untuk menetapkan secara pasti apakah nama Pulosari berasal dari nama tokoh tersebut, dari tanaman Polosari, atau dari proses penamaan lain.
Karena itu, sejarah yang baik tidak perlu memaksakan satu jawaban.
Beberapa versi dapat disimpan bersama sampai ditemukan dokumen atau bukti sejarah yang lebih kuat.
Pulosari Menjadi Kampung Induk
Dalam perkembangan berikutnya, Pulosari tidak lagi berdiri sebagai satu permukiman kecil.
Dari kawasan Pulosari berkembang pula permukiman lain.
Di sebelah selatan muncul Kampung Pulonasir yang dalam sejarah tutur dikaitkan dengan Kyai Nashir.
Di sebelah utara terdapat wilayah yang dahulu dikenal sebagai Kampung Segitik dan kemudian berkembang menjadi Sumbermulyo.
Dari perjalanan tersebut terbentuk tiga wilayah yang sekarang dikenal sebagai:
Dusun Pulosari, Dusun Pulonasir, dan Dusun Sumbermulyo.
Dalam struktur tersebut, Kampung Pulosari mempertahankan perannya sebagai pusat pemerintahan.
Itulah sebabnya perjalanan Dusun Pulosari tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Desa Pulosari secara keseluruhan.
Kehidupan Rakyat Tempo Dulu
Sejarah sebuah dusun tidak hanya dibentuk oleh tokoh besar.
Sebagian besar justru dibentuk oleh orang-orang biasa yang namanya mungkin tidak tercatat.
Petani yang membuka sawah.
Warga yang membuat jalan.
Ibu-ibu yang menjaga keluarga.
Orang tua yang mendidik anak.
Tokoh agama yang mengajar mengaji.
Warga yang bergotong royong mendirikan rumah.
Merekalah yang sesungguhnya membangun Pulosari dari hari ke hari.
Kehidupan masyarakat pada masa lalu sangat bergantung pada alam.
Tanah menjadi sumber kehidupan.
Air menentukan pertanian.
Musim menentukan kapan menanam dan kapan memanen.
Hasil bumi menjadi sumber makanan sekaligus sumber pendapatan.
Pekerjaan dilakukan dengan peralatan sederhana.
Belum ada mesin pertanian sebagaimana sekarang.
Hubungan antarwarga karena itu menjadi sangat penting.
Ketika seseorang membutuhkan bantuan, tetangga datang.
Ketika kampung membutuhkan jalan, warga bekerja bersama.
Ketika ada keluarga mempunyai hajatan atau tertimpa musibah, masyarakat membantu.
Dari kondisi inilah berkembang nilai gotong royong yang sampai sekarang menjadi salah satu kekuatan kehidupan desa.
Pertanian sebagai Penyangga Kehidupan
Wilayah Pulosari memiliki hubungan yang panjang dengan kegiatan pertanian.
Sumber tentang perkembangan Desa Pulosari menyebut pertanian sebagai salah satu mata pencaharian penting masyarakat. Data historis tahun 2016 juga menunjukkan petani sebagai kelompok pekerjaan yang dominan pada waktu itu.
Bagi masyarakat Dusun Pulosari, pertanian bukan hanya pekerjaan.
Ia adalah sebuah cara hidup.
Anak-anak tumbuh melihat orang tua pergi ke sawah dan kebun.
Pengetahuan mengenai musim diwariskan melalui pengalaman.
Keterampilan mengolah tanah dipelajari langsung dari generasi sebelumnya.
Ketika panen berhasil, keluarga bersyukur.
Ketika hasil kurang baik, masyarakat belajar bertahan.
Dari kehidupan seperti inilah terbentuk sifat tekun dan tahan menghadapi perubahan.
Jalan dan Terbukanya Kehidupan
Seiring perkembangan zaman, akses jalan menjadi semakin penting.
Jalan mengubah hubungan masyarakat dengan wilayah lain.
Jalan membuka akses menuju sekolah.
Jalan mempermudah hasil pertanian dibawa ke pasar.
Jalan mempercepat pelayanan kesehatan.
Jalan juga membuka hubungan ekonomi antarwilayah.
Perkembangan infrastruktur kemudian menjadi salah satu tanda perubahan Pulosari dari kampung tradisional menuju permukiman yang semakin terbuka.
Apa yang sekarang terasa biasa—kendaraan bisa masuk, barang dapat dikirim, anak sekolah dapat bepergian—merupakan hasil proses pembangunan selama puluhan tahun.
Dusun Pulosari dan Pusat Pemerintahan
Salah satu karakter penting Dusun Pulosari adalah kedudukannya sebagai pusat pemerintahan Desa Pulosari.
Kantor desa menjadi tempat pelayanan masyarakat, musyawarah, pengelolaan administrasi, serta perencanaan pembangunan.
Fungsi tersebut memperkuat peranan Dusun Pulosari sebagai salah satu pusat aktivitas desa.
Masyarakat dari Pulonasir dan Sumbermulyo datang untuk memperoleh pelayanan pemerintahan.
Pertemuan antarlembaga berlangsung di pusat desa.
Berbagai keputusan pembangunan juga banyak dibicarakan di sini.
Dengan demikian, Dusun Pulosari bukan hanya sebuah wilayah tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang pertemuan seluruh unsur Desa Pulosari.
Budaya dan Identitas Lokal
Keberadaan Candi Arimbi membuat masyarakat Pulosari hidup berdampingan dengan salah satu warisan sejarah terpenting di wilayah tersebut.
Generasi sekarang mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk memahami nilai peninggalan itu.
Candi dapat menjadi sumber pendidikan sejarah bagi anak-anak.
Ia dapat menjadi daya tarik wisata.
Ia juga dapat menjadi simbol visual Desa Pulosari.
Namun kekayaan budaya tidak hanya berada pada bangunan candi.
Cerita Kyai Sari dan Mayang Sari juga merupakan warisan.
Nama kampung adalah warisan.
Tradisi gotong royong adalah warisan.
Cerita para sesepuh adalah warisan.
Cara masyarakat menjaga hubungan dengan tetangga juga merupakan bentuk budaya.
Karena itu, menjaga budaya tidak cukup dengan menjaga benda lama. Yang harus dijaga juga adalah nilai yang hidup di masyarakat.
Pulosari Memasuki Zaman Modern
Perubahan zaman membawa Dusun Pulosari pada kehidupan yang sangat berbeda.
Listrik masuk.
Kendaraan semakin banyak.
Pendidikan berkembang.
Telepon genggam menjadi bagian kehidupan sehari-hari.
Internet menghubungkan masyarakat dengan dunia yang lebih luas.
Pekerjaan masyarakat menjadi lebih beragam.
Generasi muda mempunyai pilihan kehidupan yang semakin banyak.
Perubahan tersebut membuat Pulosari harus terus beradaptasi.
Namun modernisasi tidak berarti seluruh cara lama harus ditinggalkan.
Justru nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah, saling membantu, dan menghormati sesepuh menjadi semakin penting di tengah kehidupan modern yang cepat.
Dari Balai Desa Menuju Command Center
Salah satu perubahan besar dalam kehidupan pemerintahan Desa Pulosari adalah mulai digunakannya teknologi digital.
Pelayanan yang dahulu sepenuhnya dilakukan melalui pencatatan manual perlahan mulai dikembangkan melalui sistem digital.
Informasi pembangunan dapat disampaikan secara daring.
Peta wilayah mulai dibuat secara digital.
Pengaduan dapat dicatat melalui aplikasi.
Presensi, pelayanan surat, buku tamu, informasi anggaran, dan berbagai layanan lainnya mulai dikembangkan dalam sistem terintegrasi.
Kehadiran Command Center Desa Pulosari menjadi gambaran betapa jauhnya perjalanan kampung ini.
Dahulu masyarakat membuka hutan untuk membangun permukiman.
Hari ini generasinya membuka ruang digital untuk membangun pelayanan.
Namun tujuan keduanya sebenarnya sama: membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.
Candi Arimbi dan Masa Depan Pulosari
Keberadaan Candi Arimbi memberikan peluang besar bagi Dusun Pulosari.
Selain sebagai situs sejarah, candi dapat dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi dan budaya. Pemerintah Kabupaten Jombang sendiri menempatkan Candi Rimbi sebagai destinasi sejarah yang berpotensi dipadukan dengan perjalanan menuju kawasan selatan Jombang.
Pengembangan seperti ini harus dilakukan secara hati-hati.
Candi harus tetap dilindungi.
Lingkungan harus dijaga.
Masyarakat harus mendapat manfaat.
Produk UMKM dapat dikenalkan.
Cerita desa dapat disampaikan kepada pengunjung.
Generasi muda dapat berperan sebagai pemandu, dokumentator, maupun pelaku ekonomi kreatif.
Jika dikelola dengan baik, sejarah tidak hanya menjadi kenangan masa lalu.
Sejarah dapat menjadi kekuatan pembangunan masa depan.
Nilai yang Diwariskan
Dari perjalanan panjang Dusun Pulosari, terdapat beberapa nilai penting yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Religius, karena sejarah tutur masyarakat mengingat Kyai Sari dan Mayang Sari sebagai tokoh pembuka permukiman dan pembawa ajaran Islam.
Menghargai sejarah, karena Pulosari berdiri berdampingan dengan peninggalan masa klasik berupa Candi Arimbi.
Gotong royong, karena kehidupan kampung tumbuh melalui kerja bersama.
Kerja keras, karena masyarakat sejak dahulu bergantung pada kemampuan mengolah alam dan lahan.
Toleransi terhadap perjalanan zaman, karena wilayah ini menyimpan jejak kebudayaan yang berbeda-beda.
Dan semangat berubah, karena masyarakat terus mengikuti perkembangan tanpa harus meninggalkan akar kehidupan desa.
Sejarah yang Belum Selesai
Sejarah Dusun Pulosari masih menyimpan banyak ruang untuk digali.
Masih diperlukan informasi mengenai lokasi awal kediaman Kyai Sari dan Mayang Sari.
Masih mungkin terdapat makam, petilasan, sumber air, nama tempat, atau cerita keluarga yang belum terdokumentasi.
Foto-foto Pulosari tempo dulu juga perlu dikumpulkan.
Arsip administrasi lama, letter C, peta desa, serta dokumen keluarga dapat memberikan informasi baru.
Yang paling penting adalah merekam cerita para sesepuh selama mereka masih dapat menceritakannya.
Satu cerita dari seorang sesepuh hari ini dapat menjadi dokumen yang sangat berharga bagi anak cucu lima puluh tahun mendatang.
Pulosari: Kampung Tua yang Terus Bergerak
Perjalanan Dusun Pulosari memperlihatkan sebuah transformasi panjang.
Dari kawasan yang dalam sejarah tutur digambarkan sebagai hutan, tumbuh permukiman.
Dari permukiman tumbuh kampung.
Dari kampung berkembang pemerintahan.
Dari masyarakat agraris tumbuh masyarakat yang semakin beragam.
Dari pelayanan manual berkembang pelayanan digital.
Namun di tengah seluruh perubahan itu terdapat sesuatu yang tetap sama:
Pulosari adalah rumah masyarakatnya.
Candi Arimbi menjadi saksi masa lampau.
Kyai Sari dan Mayang Sari hidup dalam ingatan sejarah tutur.
Sawah dan kebun mengingatkan pada kerja keras leluhur.
Kantor desa menjadi simbol perjalanan pemerintahan.
Sementara generasi muda menjadi harapan untuk membawa Pulosari menuju masa depan.
Kampung Induk, Jejak Candi Arimbi, Syiar Kyai Sari, dan Perjalanan Masyarakat
Dusun Pulosari merupakan salah satu dari tiga dusun yang membentuk Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Bersama Dusun Pulonasir dan Dusun Sumbermulyo, wilayah ini menjadi bagian dari bentang kehidupan masyarakat di kawasan yang dikenal dengan sebutan Panyongone Anjasmoro.
Di antara ketiga dusun tersebut, Pulosari memiliki posisi yang sangat penting dalam perjalanan sejarah desa. Cerita asal-usul yang dipublikasikan Pemerintah Desa Pulosari menyebut kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Pulosari berkembang dari sebuah permukiman yang dibuka oleh tokoh agama bernama Kyai Sari bersama istrinya, Mayang Sari. Dalam tradisi tutur masyarakat, keduanya juga dikaitkan dengan perkembangan ajaran Islam di wilayah tersebut.
Pada perkembangan berikutnya, Kampung Pulosari menjadi pusat kehidupan pemerintahan desa hingga masa sekarang.
Karena itu, sejarah Dusun Pulosari bukan hanya sejarah sebuah permukiman. Di wilayah inilah bertemu jejak masa klasik, cerita rakyat, perkembangan kehidupan Islam, pertanian, pemerintahan, dan perubahan masyarakat dari masa ke masa.
Pulosari Sebelum Menjadi Kampung
Dalam cerita lokal yang diwariskan masyarakat, wilayah Desa Pulosari pada masa lampau digambarkan masih berupa kawasan hutan dengan penduduk yang belum banyak.
Riwayat desa kemudian menghubungkannya dengan masa Kerajaan Majapahit. Dalam legenda masyarakat disebut nama Prabu Boko dan Joko Lodang, yang dikisahkan berkaitan dengan pembangunan tempat peribadatan yang kemudian dikenal sebagai Candi Arimbi. Pemerintah Desa sendiri menyajikan kisah ini sebagai bagian dari legenda asal-usul desa.
Cerita tersebut penting sebagai warisan tutur, tetapi tidak seluruh detail tokoh dan peristiwanya dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang sudah dibuktikan secara arkeologis.
Yang dapat dipastikan adalah bahwa di Dusun Pulosari benar-benar terdapat Candi Rimbi atau Candi Arimbi, yaitu peninggalan masa klasik di wilayah Kabupaten Jombang. Pemerintah Kabupaten Jombang mencatat lokasinya secara administratif berada di Dusun Pulosari, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng.
Keberadaan candi itulah yang menjadikan Dusun Pulosari mempunyai kedalaman sejarah yang berbeda.
Jauh sebelum kantor desa berdiri, jauh sebelum jalan-jalan berkembang seperti sekarang, kawasan ini sudah menyimpan jejak peradaban masa lampau.
Candi Arimbi, Saksi Perjalanan Zaman
Bagi masyarakat Dusun Pulosari, Candi Arimbi bukan sekadar objek wisata.
Bangunan tersebut merupakan pengingat bahwa wilayah yang mereka tempati telah melewati berbagai zaman.
Candi Rimbi merupakan peninggalan masa klasik yang memperlihatkan jejak sejarah dan kebudayaan Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Jombang juga menempatkannya sebagai salah satu destinasi sejarah dan budaya daerah.
Dalam kehidupan masyarakat tempo dulu, pemahaman mengenai nilai arkeologis sebuah candi tentu tidak sama dengan sekarang. Situs Desa Pulosari bahkan mencatat bahwa pada masa tertentu batu-batu dari kawasan candi pernah dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan rumah atau jalan sebelum kesadaran pelestarian berkembang lebih baik.
Kisah ini memberikan pelajaran penting.
Sebuah peninggalan sejarah dapat bertahan bukan hanya karena usianya, tetapi karena masyarakat akhirnya memahami bahwa warisan tersebut perlu dijaga.
Hari ini Candi Arimbi menjadi bagian penting dari identitas Pulosari.
Ia menjadi penghubung antara generasi sekarang dengan masa yang jauh lebih tua.
Datangnya Kyai Sari dan Mayang Sari
Lapisan sejarah berikutnya membawa masyarakat pada cerita mengenai berkembangnya kehidupan Islam.
Menurut sejarah desa yang dicatat Pemerintah Desa Pulosari, datang seorang tokoh ulama bernama Kyai Sari bersama istrinya, Mayang Sari.
Dalam cerita tersebut, keduanya membuka kawasan hutan untuk dijadikan permukiman sekaligus membawa ajaran Islam. Permukiman itulah yang kemudian dikenal dengan nama Kampung Pulosari.
Tidak terdapat tahun yang pasti mengenai kedatangan Kyai Sari dan Mayang Sari dalam sumber resmi desa yang tersedia. Karena itu, kisah ini lebih tepat disebut sebagai sejarah tutur masyarakat yang kemudian dicatat dalam dokumen desa.
Namun justru di sinilah nilai pentingnya.
Cerita tentang Kyai Sari dan Mayang Sari menunjukkan bahwa asal-usul Kampung Pulosari dalam ingatan masyarakat tidak hanya berhubungan dengan pembukaan lahan, tetapi juga dengan kehidupan spiritual dan keagamaan.
Membuka hutan berarti membuka ruang hidup.
Mendirikan permukiman berarti membangun keluarga.
Membawa ajaran agama berarti membangun nilai yang akan menjadi pegangan masyarakat.
Dari Hutan Menjadi Permukiman
Bayangkan Pulosari pada masa awal.
Belum ada jalan beraspal.
Belum ada listrik.
Belum ada kantor pemerintahan seperti sekarang.
Permukiman masih sederhana dan sebagian besar lingkungan masih didominasi pepohonan, lahan terbuka, sungai, kebun, dan hutan.
Masyarakat membuka lahan sedikit demi sedikit.
Pohon ditebang seperlunya untuk membangun rumah dan membuka kebun. Tanah diolah untuk menghasilkan bahan pangan.
Rumah-rumah kemudian tumbuh berdekatan dengan sumber air, jalan setapak, dan lahan yang dapat dikerjakan.
Dari rumah-rumah itulah perlahan tumbuh sebuah kampung.
Dalam riwayat desa, Kampung Pulosari kemudian berkembang menjadi kawasan yang subur dan akhirnya berperan sebagai pusat pemerintahan.
Ini menjadi salah satu alasan mengapa Dusun Pulosari mempunyai posisi penting sampai sekarang.
Kehidupan Religius Masyarakat
Kisah Kyai Sari dan Mayang Sari memberi warna religius yang kuat dalam sejarah Dusun Pulosari.
Islam berkembang bukan hanya sebagai kegiatan ibadah, tetapi sebagai bagian dari tata kehidupan masyarakat.
Pada masa ketika pendidikan formal belum berkembang, tokoh agama memiliki peranan sangat besar.
Masyarakat belajar mengaji.
Anak-anak memperoleh pendidikan agama.
Persoalan sosial sering dibicarakan bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Tradisi keagamaan kemudian berkembang dari generasi ke generasi melalui masjid, musala, pengajian, peringatan hari besar Islam, kegiatan sosial, dan berbagai kebiasaan masyarakat.
Dalam perjalanan panjang tersebut, hal yang menarik adalah bahwa kehidupan Islam berkembang di wilayah yang juga menyimpan peninggalan kebudayaan Hindu berupa Candi Arimbi.
Kedua lapisan sejarah itu sekarang hadir bersama sebagai identitas Pulosari.
Candi dijaga sebagai warisan sejarah.
Kehidupan masyarakat berkembang dengan nilai agama yang dianut generasi berikutnya.
Pulosari menjadi contoh bagaimana sebuah wilayah dapat menyimpan jejak dari zaman yang berbeda tanpa harus menghapus salah satunya.
Asal Nama Pulosari
Nama Pulosari juga mempunyai cerita tersendiri.
Salah satu versi yang berkembang menghubungkan nama desa dengan keberadaan pohon Polosari atau Pulosari yang dahulu disebut banyak tumbuh di wilayah tersebut. Namun Pemerintah Desa Pulosari sendiri pernah menegaskan bahwa cerita mengenai pohon tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar asal-usul nama desa.
Ada pula kaitan yang menarik antara kata “Sari” dengan tokoh Kyai Sari dan Mayang Sari dalam sejarah tutur masyarakat.
Akan tetapi, belum ada sumber yang cukup untuk menetapkan secara pasti apakah nama Pulosari berasal dari nama tokoh tersebut, dari tanaman Polosari, atau dari proses penamaan lain.
Karena itu, sejarah yang baik tidak perlu memaksakan satu jawaban.
Beberapa versi dapat disimpan bersama sampai ditemukan dokumen atau bukti sejarah yang lebih kuat.
Pulosari Menjadi Kampung Induk
Dalam perkembangan berikutnya, Pulosari tidak lagi berdiri sebagai satu permukiman kecil.
Dari kawasan Pulosari berkembang pula permukiman lain.
Di sebelah selatan muncul Kampung Pulonasir yang dalam sejarah tutur dikaitkan dengan Kyai Nashir.
Di sebelah utara terdapat wilayah yang dahulu dikenal sebagai Kampung Segitik dan kemudian berkembang menjadi Sumbermulyo.
Dari perjalanan tersebut terbentuk tiga wilayah yang sekarang dikenal sebagai:
Dusun Pulosari, Dusun Pulonasir, dan Dusun Sumbermulyo.
Dalam struktur tersebut, Kampung Pulosari mempertahankan perannya sebagai pusat pemerintahan.
Itulah sebabnya perjalanan Dusun Pulosari tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Desa Pulosari secara keseluruhan.
Kehidupan Rakyat Tempo Dulu
Sejarah sebuah dusun tidak hanya dibentuk oleh tokoh besar.
Sebagian besar justru dibentuk oleh orang-orang biasa yang namanya mungkin tidak tercatat.
Petani yang membuka sawah.
Warga yang membuat jalan.
Ibu-ibu yang menjaga keluarga.
Orang tua yang mendidik anak.
Tokoh agama yang mengajar mengaji.
Warga yang bergotong royong mendirikan rumah.
Merekalah yang sesungguhnya membangun Pulosari dari hari ke hari.
Kehidupan masyarakat pada masa lalu sangat bergantung pada alam.
Tanah menjadi sumber kehidupan.
Air menentukan pertanian.
Musim menentukan kapan menanam dan kapan memanen.
Hasil bumi menjadi sumber makanan sekaligus sumber pendapatan.
Pekerjaan dilakukan dengan peralatan sederhana.
Belum ada mesin pertanian sebagaimana sekarang.
Hubungan antarwarga karena itu menjadi sangat penting.
Ketika seseorang membutuhkan bantuan, tetangga datang.
Ketika kampung membutuhkan jalan, warga bekerja bersama.
Ketika ada keluarga mempunyai hajatan atau tertimpa musibah, masyarakat membantu.
Dari kondisi inilah berkembang nilai gotong royong yang sampai sekarang menjadi salah satu kekuatan kehidupan desa.
Pertanian sebagai Penyangga Kehidupan
Wilayah Pulosari memiliki hubungan yang panjang dengan kegiatan pertanian.
Sumber tentang perkembangan Desa Pulosari menyebut pertanian sebagai salah satu mata pencaharian penting masyarakat. Data historis tahun 2016 juga menunjukkan petani sebagai kelompok pekerjaan yang dominan pada waktu itu.
Bagi masyarakat Dusun Pulosari, pertanian bukan hanya pekerjaan.
Ia adalah sebuah cara hidup.
Anak-anak tumbuh melihat orang tua pergi ke sawah dan kebun.
Pengetahuan mengenai musim diwariskan melalui pengalaman.
Keterampilan mengolah tanah dipelajari langsung dari generasi sebelumnya.
Ketika panen berhasil, keluarga bersyukur.
Ketika hasil kurang baik, masyarakat belajar bertahan.
Dari kehidupan seperti inilah terbentuk sifat tekun dan tahan menghadapi perubahan.
Jalan dan Terbukanya Kehidupan
Seiring perkembangan zaman, akses jalan menjadi semakin penting.
Jalan mengubah hubungan masyarakat dengan wilayah lain.
Jalan membuka akses menuju sekolah.
Jalan mempermudah hasil pertanian dibawa ke pasar.
Jalan mempercepat pelayanan kesehatan.
Jalan juga membuka hubungan ekonomi antarwilayah.
Perkembangan infrastruktur kemudian menjadi salah satu tanda perubahan Pulosari dari kampung tradisional menuju permukiman yang semakin terbuka.
Apa yang sekarang terasa biasa—kendaraan bisa masuk, barang dapat dikirim, anak sekolah dapat bepergian—merupakan hasil proses pembangunan selama puluhan tahun.
Dusun Pulosari dan Pusat Pemerintahan
Salah satu karakter penting Dusun Pulosari adalah kedudukannya sebagai pusat pemerintahan Desa Pulosari.
Kantor desa menjadi tempat pelayanan masyarakat, musyawarah, pengelolaan administrasi, serta perencanaan pembangunan.
Fungsi tersebut memperkuat peranan Dusun Pulosari sebagai salah satu pusat aktivitas desa.
Masyarakat dari Pulonasir dan Sumbermulyo datang untuk memperoleh pelayanan pemerintahan.
Pertemuan antarlembaga berlangsung di pusat desa.
Berbagai keputusan pembangunan juga banyak dibicarakan di sini.
Dengan demikian, Dusun Pulosari bukan hanya sebuah wilayah tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang pertemuan seluruh unsur Desa Pulosari.
Budaya dan Identitas Lokal
Keberadaan Candi Arimbi membuat masyarakat Pulosari hidup berdampingan dengan salah satu warisan sejarah terpenting di wilayah tersebut.
Generasi sekarang mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk memahami nilai peninggalan itu.
Candi dapat menjadi sumber pendidikan sejarah bagi anak-anak.
Ia dapat menjadi daya tarik wisata.
Ia juga dapat menjadi simbol visual Desa Pulosari.
Namun kekayaan budaya tidak hanya berada pada bangunan candi.
Cerita Kyai Sari dan Mayang Sari juga merupakan warisan.
Nama kampung adalah warisan.
Tradisi gotong royong adalah warisan.
Cerita para sesepuh adalah warisan.
Cara masyarakat menjaga hubungan dengan tetangga juga merupakan bentuk budaya.
Karena itu, menjaga budaya tidak cukup dengan menjaga benda lama. Yang harus dijaga juga adalah nilai yang hidup di masyarakat.
Pulosari Memasuki Zaman Modern
Perubahan zaman membawa Dusun Pulosari pada kehidupan yang sangat berbeda.
Listrik masuk.
Kendaraan semakin banyak.
Pendidikan berkembang.
Telepon genggam menjadi bagian kehidupan sehari-hari.
Internet menghubungkan masyarakat dengan dunia yang lebih luas.
Pekerjaan masyarakat menjadi lebih beragam.
Generasi muda mempunyai pilihan kehidupan yang semakin banyak.
Perubahan tersebut membuat Pulosari harus terus beradaptasi.
Namun modernisasi tidak berarti seluruh cara lama harus ditinggalkan.
Justru nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah, saling membantu, dan menghormati sesepuh menjadi semakin penting di tengah kehidupan modern yang cepat.
Dari Balai Desa Menuju Command Center
Salah satu perubahan besar dalam kehidupan pemerintahan Desa Pulosari adalah mulai digunakannya teknologi digital.
Pelayanan yang dahulu sepenuhnya dilakukan melalui pencatatan manual perlahan mulai dikembangkan melalui sistem digital.
Informasi pembangunan dapat disampaikan secara daring.
Peta wilayah mulai dibuat secara digital.
Pengaduan dapat dicatat melalui aplikasi.
Presensi, pelayanan surat, buku tamu, informasi anggaran, dan berbagai layanan lainnya mulai dikembangkan dalam sistem terintegrasi.
Kehadiran Command Center Desa Pulosari menjadi gambaran betapa jauhnya perjalanan kampung ini.
Dahulu masyarakat membuka hutan untuk membangun permukiman.
Hari ini generasinya membuka ruang digital untuk membangun pelayanan.
Namun tujuan keduanya sebenarnya sama: membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.
Candi Arimbi dan Masa Depan Pulosari
Keberadaan Candi Arimbi memberikan peluang besar bagi Dusun Pulosari.
Selain sebagai situs sejarah, candi dapat dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi dan budaya. Pemerintah Kabupaten Jombang sendiri menempatkan Candi Rimbi sebagai destinasi sejarah yang berpotensi dipadukan dengan perjalanan menuju kawasan selatan Jombang.
Pengembangan seperti ini harus dilakukan secara hati-hati.
Candi harus tetap dilindungi.
Lingkungan harus dijaga.
Masyarakat harus mendapat manfaat.
Produk UMKM dapat dikenalkan.
Cerita desa dapat disampaikan kepada pengunjung.
Generasi muda dapat berperan sebagai pemandu, dokumentator, maupun pelaku ekonomi kreatif.
Jika dikelola dengan baik, sejarah tidak hanya menjadi kenangan masa lalu.
Sejarah dapat menjadi kekuatan pembangunan masa depan.
Nilai yang Diwariskan
Dari perjalanan panjang Dusun Pulosari, terdapat beberapa nilai penting yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Religius, karena sejarah tutur masyarakat mengingat Kyai Sari dan Mayang Sari sebagai tokoh pembuka permukiman dan pembawa ajaran Islam.
Menghargai sejarah, karena Pulosari berdiri berdampingan dengan peninggalan masa klasik berupa Candi Arimbi.
Gotong royong, karena kehidupan kampung tumbuh melalui kerja bersama.
Kerja keras, karena masyarakat sejak dahulu bergantung pada kemampuan mengolah alam dan lahan.
Toleransi terhadap perjalanan zaman, karena wilayah ini menyimpan jejak kebudayaan yang berbeda-beda.
Dan semangat berubah, karena masyarakat terus mengikuti perkembangan tanpa harus meninggalkan akar kehidupan desa.
Sejarah yang Belum Selesai
Sejarah Dusun Pulosari masih menyimpan banyak ruang untuk digali.
Masih diperlukan informasi mengenai lokasi awal kediaman Kyai Sari dan Mayang Sari.
Masih mungkin terdapat makam, petilasan, sumber air, nama tempat, atau cerita keluarga yang belum terdokumentasi.
Foto-foto Pulosari tempo dulu juga perlu dikumpulkan.
Arsip administrasi lama, letter C, peta desa, serta dokumen keluarga dapat memberikan informasi baru.
Yang paling penting adalah merekam cerita para sesepuh selama mereka masih dapat menceritakannya.
Satu cerita dari seorang sesepuh hari ini dapat menjadi dokumen yang sangat berharga bagi anak cucu lima puluh tahun mendatang.
Pulosari: Kampung Tua yang Terus Bergerak
Perjalanan Dusun Pulosari memperlihatkan sebuah transformasi panjang.
Dari kawasan yang dalam sejarah tutur digambarkan sebagai hutan, tumbuh permukiman.
Dari permukiman tumbuh kampung.
Dari kampung berkembang pemerintahan.
Dari masyarakat agraris tumbuh masyarakat yang semakin beragam.
Dari pelayanan manual berkembang pelayanan digital.
Namun di tengah seluruh perubahan itu terdapat sesuatu yang tetap sama:
Pulosari adalah rumah masyarakatnya.
Candi Arimbi menjadi saksi masa lampau.
Kyai Sari dan Mayang Sari hidup dalam ingatan sejarah tutur.
Sawah dan kebun mengingatkan pada kerja keras leluhur.
Kantor desa menjadi simbol perjalanan pemerintahan.
Sementara generasi muda menjadi harapan untuk membawa Pulosari menuju masa depan.
Sumber informasi: Pemerintah Desa Pulosari.